Dendam

Dendam

Dendam, berkeinginan keras untuk membalas (kejahatan dan sebagainya). Kata dendam, satu kata yang bermakna luas dan tidak akan pernah ada ujungnya sampai dunia kiamat. Iblis yang di hukum oleh Alloh SWT akan masuk neraka, minta di beri tangguh dan akan mengganggu manusia sampai ke neraka agar menemaninya, bagi manusia yang tidak beriman. Jadi kata dendam sangat berbahaya bagi umat manusia. Indonesia dengan dendam sejarah, di ungkit dan di timbulkan terus, sehingga masyarakat tidak menghilangkan sejarah. Kalimat yang terkenal di sampaikan oleh Ir. Soekarno dalam ungkapan “Jasmerah, Jangan sekali-kali melupakan sejarah”. Apa yang terjadi saat ini dengan di timbulkan kembali sejarah kelam G20S PKI, mulai terlihat paksi-paksi yang berani terang-terangan bersimpati pada PKI, yang konon katanya akan bangkit.

https://www.youtube.com/watch?v=HP8mehwm_iA

Dari pergolakan ini bukan hanya TNI yang menjadi ujung tombak dalam menghalau gerakan ini, namum masyarakatat harus waspada. Entah siapa yang memulai keributan di negeri ini. Tahun 1948 kerusuhan telah di gagalkan, tahun 1965 muncul kembali bahkan lebih ganas karena di dukung oleh kekuasaan dengan Nasakomnya. Karena mendapat perlindungan dari kekuasaan semakin nekad dan membunuh tujuh Pahlawan Revolusi. Bahkan sebelumnya Pesantren di Madiun menjadi sasaran pada waktu itu. Semua itu menjadi dendam yang tidak akan berkesudahan, sampai kiamat menjelang. Mengerikan kalau ini terjadi terus dan terus terjadi, siapa yang akan mengalah, semua tidak mau mengalah. Rekonsiliasi pernah di tawarkan, bahkan Pemerintah harus meminta maaf kepada korban dari pihak PKI. Pejabat negara pernah menyampaikan, “enak saja minta maaf, siapa yang duluan, kita yang bonyok di suruh minta maaf”.

Negeri ini tidak akan pernah maju dan berkembang bila terus melihat kebelakang. Melihat kebelakang bagus menurut ahli sejarah, karena menengok kebelakang sebagai pengalaman yang baik agar tidak terjadi kembali. Tetapi bila terus menerus dan menimbulkan paksi-paksi yang memprovokasi, agar rakyat lebih bersimpati ini juga tidak baik. Saat ini sudah mulai, lambang-lambang palu arit beredar di tengah-tengah masyarakat. Bagi masyarakat yang masih berumur, 40 tahun kebawah sudah tidak tau peristiwa G30S PKI, mereka akan menganggap gambar biasa saja, tetapi bagi pelaku yang mengalami, seperti putera-puteri pahlawan revolusi akan mengganggap ini semua merupakan penghianatan. Bagi putra-puteri pelaku keganasan bahkan putera DN Aidit mengatakan, “dalamnya laut dapat di duga, tetapi PKI belum tentu mati”. Mereka tidak menampakan diri tetapi sudah ada di mana-mana.

Bagai mana tidak mendendam para mantan anggota PKI dan yang terlibat dalam pergerakan. Selama Orde Baru tidak di beri kesempatan untuk menjadi PNS, bahkan kehidupan nya di awasi terus menerus. Anggota TNI yang pernah memnyumbang apapun dalam pergerakan PKI di anggap mendukung PKI dan mengalami hukuman penjara dengan tidak di sidangkan, ini lah yang selalu di ungkit. Banyak warga negara yang lari keluar negeri dan tidak bisa kembali ke Tanah air.

Di bukanya keran demokrasi melalui reformasi dan runtuhnya Orde Baru memberikan angin segar bagi anak-anak anggota PKI, sebut saja Ribka Ciptaning yang bangga menjadi anak PKI bahkan terang-terangan dalam sebuah buku serta wawancara di salah satu media beliau mengatakan bahwa ada sekitar 15 juta termasuk anak dan cucunya. Jumlah ini sangat potensial dalam mempengaruhi kebijakan pemerintah melalui lembaga Legislatif. Dan informasi ini telah di sampaikan oleh Ustad Alfian Tanjung bahwa saat ini sudah ada kurang lebih 200 Anggota Legislatif yang berasal dari keluarga mantan anggota PKI.

Bila di pikir-pikir dendam ini tidak akan berakhir. Karena semua pihak merasa benar dan tidak mau di salahkan. Coba renungkan Letnan Jenderal TNI Purnawirawan Agus Wijoyo Kepala Lemhanas pernah menggagas acara Simposium Nasional, membedah Tragedi 1965 di Hotel Aryaduta, 18 April 2018. Simposium ini di adakan guna menemukan penyelesaian Tragedi 1965. Tapi yang terjadi malah beliau yang dipersalahkan, sebagai pendukung PKI padahal Orang tua beliau yang menjadi korban kebiadaban PKI. Maka oleh sebab itu dendam tidak akan pernah selesai bila masing-masing terus mempermasalahkan. Dendam tidak akan selesai, sekali lagi tidak akan selesai. Oleh karena itu, mari berpikir kedepan menuju Indonesia yang lebih baik, lebih hebat dari kemajuan-kemajuan Ilmu Pengetahuan untuk kepentingan Bangsa dan Negara.

Beberapa narasi yang telah di sampaikan melalui media televisi seperti ling di atas membuat masyarakat jenuh dan berpikir kapan akan berakhir. Haruskah kita terpropokasi dengan semua tayangan dan narasi-narasi yang terus di tayangkan. Haruskah pihak-pihak yang kalah juga terus menerus menekan kekuasaan agar meminta maaf. Semoga cepat berakhir walapun sangat sulit akan berakhir. Harus ada yang berlapang dada untuk islah. Aamiin. (IDT)