Matematika

MATEMATIKA?

Matematika menurut Russefendi, matematika terorganisir dari unsur-unsur yang tidak didefinisikan, definisi-definisi, aksioma-aksioma dan dalill-dalil, dimana dalil-dalil setelah dibuktikan kebenarannya berlaku umum, karena itulah matematika sering di sebut ilmu deduktif. Pengertian matematika dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah bilangan-bilangan, hubungan antar bilangan dan prosedur operasional yang digunakan dalam penyelesaian mengenai bilangan. Depdiknas (2003: 75) menyebutkan bahwa matematika adalah bahan kajian yang memiliki objek abstrak dan dibangun melalui proses penalaran deduktif.

Dari ketiga definisi yang disampaikan oleh para ahli, dan masih banyak para ahli yang mendefinisikan matematika. Tentu menarik untuk dikaji dan dipelajari. Matematika masih menjadi materi yang tidak di sukai oleh peserta didik. Matematika memerlukan pengertian yang mendalam untuk dipelajari, karena memiliki konsep yang dibangun seiring dengan perkembangan pola pikir peserta didik itu sendiri.

Matematika mulai di kenalkan pada tahun 1975, dengan di berlakukannya kurikulum 1975. Sebelumnya matematika masih di sebut Ilmu Pasti, Ilmu ukur Sudut dan lainnya. Setelah itu Matematika yang di kenalkan oleh Prof. Russefendi (Guru Besar IKIP Bandung/UPI Bandung) melalui buku yang terkenal Matematika Modren. Dalam matematika modern, diajarkan menjadi empat materi kelompok, yaitu Aljabar, Aritmatika, Geometri dan Trigonometeri, materi ini di berikan ketika usia Sekolah Menengah Pertama. Selanjutnya di tingkat Sekolah Menengah Atas tahun 1981 ada tambahan materi logika, di tahun 1987 ada pengenalan computer yang masuk kedalam matematika.

Mengapa matematika menjadi pelajaran yang tidak begitu di sukai oleh kebanyakan peserta didik. Rata-rata hasil ujian nasional untuk mata pelajaran matematika, tidak begitu menggembirakan, masih banyak nilai yang di peloreh sebagian peserta didik masih di bawah 5, berikut kementerian Pendidikan dan kebudayaan mencatat hasil UN tahun 2019, untuk SMA IPA, Bahasa Indonesia 69,55, Baahasa Inggris 53,49, Matematika 39,29, fisika 46,42, Kimia 50,95 dan biologi 50,50, untuk SMA IPS Bahasa Indonesia 59,34, Bahasa Ingris 44,72, Matematika 34,65; Ekonomi 52,58; Geografi 49,84 dan Sosiologi 51,85. Terlihat bahwa hasil UN untuk mata pelajaran Maatematika dari Jurusan IPA dan IPS masil rendah bahkan kurang dari 4 nilai secara nasional. Mengapa demikian, karena matematika memberikan materi konsep. Jika konsep itu tidak dipahami, maka peserta didik akan ketinggalan dan akan sulit untuk mempelajari sendiri. Misalnya dalam kelas sekolah dasar di berikan konsep penjumlahan yang sederhana, ada dua ekor anak ayam di dekat induknya dan tiga ekor yang lain tidak jauh dari induknya, berapa anak ayam seluruhnya. Ini mengajarkan konsep penjumlahan yang sejenis. Berbeda dengan, Adi mempunyai 2 buah aple dan 3 buah mangga, berapa jumlah buah apel dan buah mangga yang di miliki Adi, tidak bisa di jawab menjadi lima buah, karena tidak sejenis, seharusnya tetap di katakan buah yang di milki Adi yaitu; 2 buah aple dan 3 buah mangga.

Matematika di awal di ajarkan dengan pola berpikir konkret/nyata. Semakin tinggi perkembangan berpikir peserta didik, diberikan konsep yang abstrak. Jika di sekolah dasar mengajarkan kotak kosong di tambah lima sama dengan 8 berapa kotak kosong seharusnya. Meningkat ke usia SMP mulai di kenalkan dengan x + 5 = 8, apa itu x, x merupakan variable yang menggatikan kotak kosong ketika di sekolah dasar.

Oleh karena itu, matematika mudah dipelajari sejak sekolah dasar dengan memberikan pemahaman konsep yang terstruktur, mulai dari penjumlahan dan pengurangan di lanjutkan dengan perkalian dan pembagian. Materi ini harus telah disampaikan kepada peserta didik sejak di sekolah dasar, bila tidak dapat mengikuti konsep ini, maka untuk sekolah selanjutnya akan semakin terbata-bata atau tidak memahami konsep dalam matematika. Padahal matematika memberikan pemahaman yang dapat membantu untuk mata pelajaran yang lain seperti, fisika, kimia, dan mata pelajaran sosial lainnya.

Untuk para orang tua, jangan takut mempelajari matematika. karena matematika memberikan tingkat pemahaman yang tinggi, serta dapat memberikan pola pikir yang kritis terhadap sesuatu yang dipelajari oleh peseta didik. Dalam kehidupan sehari-ahari antara peserta didik yang menyenangi pelajaran matematika, akan mudah menerima materi pelajaran lainnya yang membutuhkan pola konsep berpikir.

Di Indonesia bebrapa tokoh yang di pastikan matematikanya bagus, seperti Almarhum B.J. Habibie ahli teknologi dirgantara, bahkan anaknya Bapak Ilham Habibie juga matematika nya bagus. Berikutnya ahli ekonomi seperti Ibu Sri Mulyani, matematikanya juga bagus. Para ahli politik dalam kalkulasi kemenangan di Pemilu juga memerlukan berpikir kritis. Ilmu matematika lah yang dapat memberikan perubahan pola berpikir bagi setiap manusia yang mau mempelajarinya.

Sekali lagi kepada para orang tua peserta didik harus lebih menekankan pentingnya mempelajari matematika, konsultasikan kepada gurunya bagaimana dengan pelajaran matematikanya, bukan berarti mata pelajaran lain tidak penting. Bila masih kurang untuk nilai matematika berikan tambahan pelajaran bagi dirinya dan jangan di paksa, biarkan keinginan sendiri yang akan membawa perubahan berikutnya. Mari kita tekankan kepada peserta didik jangan takut mempelajari matematika, saat ini teknologi internet semakin canggih, manfaatkanlah perkembangan teknologi untuk kemajuan bangsa.